Di usia 74 tahun, saat sebagian orang menikmati masa tua dengan beristirahat, Abah Ajid justru masih harus berjuang sebagai buruh harian lepas. Upahnya tak menentu. Jika ada yang memanggilnya menjadi kuli bangunan, ia bekerja. Jika tidak ada panggilan, hari itu berarti tanpa penghasilan.

Setahun lalu, ujian berat menghampirinya. Sebuah kecelakaan merenggut satu kakinya. Kini Abah berjalan dengan kaki palsu hasil patungan tetangga. Tubuhnya mungkin tak lagi sempurna, tapi tekadnya tetap utuh.

Di tengah keterbatasan fisik, Abah masih memikul tanggung jawab besar: menafkahi istri dan cucunya yang yatim. Penghasilan yang pas-pasan harus dibagi untuk makan sehari-hari, kebutuhan rumah, dan tunggakan sekolah sang cucu yang sudah berbulan-bulan belum terbayar.

Setiap hari, Abah bukan hanya menahan lelah dengan satu kaki, tetapi juga menahan cemas takut jika cucunya harus berhenti sekolah karena biaya yang tak mampu ia lunasi.

Abah tidak pernah mengeluh. Ia hanya ingin satu hal: cucunya tetap bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik darinya.
Kini, Abah Ajid membutuhkan kita.
Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk:
Melunasi tunggakan sekolah cucunya
Memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga
Membantu biaya pengobatan dan kebutuhan kesehatan Abah
Modal usaha ringan agar Abah tetap bisa berpenghasilan tanpa mengandalkan tenaga berat
Sahabat, mungkin bagi kita donasi adalah angka kecil.
Namun bagi Abah, itu adalah harapan.
Harapan agar cucunya tetap duduk di bangku sekolah.
Harapan agar masa tua yang berat ini terasa sedikit lebih ringan.
Mari bersama ringankan perjuangan Abah Ajid.
Sedikit dari kita, sangat berarti bagi mereka.
