Di saat banyak orang bisa bekerja dengan tubuh sehat, Abah Dindin justru harus bertahan hidup dalam kondisi setengah lumpuh akibat stroke. Sudah sekitar 5 tahun Abah berjuang melawan stroke di sisi kiri tubuhnya.
Kakinya pincang, tangan kirinya kaku, bahkan untuk berjalan pun ia harus tertatih menahan sakit. Namun demi keluarga, Abah tetap memaksakan diri berjualan ikan hias keliling. Setiap pagi selepas subuh, ia berangkat berjalan kaki.
Karena ongkos Rp16.000 terasa terlalu berat untuknya. Lebih pilu lagi, Abah sering berjalan tanpa sandal. Kaki yang terkena stroke membuat sandal mudah terlepas, hingga ia kerap tertusuk paku dan pecahan kaca di jalan. Penghasilannya pun jauh dari cukup. Dari menjual ikan seharga Rp2.000–Rp5.000, Abah hanya mendapat untung sekitar Rp1.000.
Bahkan dalam sehari, ia hanya membawa pulang sekitar Rp7.000… atau kadang tidak sama sekali. Di rumah, istri dan anak-anaknya masih bergantung padanya. Di tengah keterbatasan itu, Abah juga harus menanggung hutang Rp5.000.000 demi bisa bertahan hidup dan melanjutkan usahanya.
Meski kondisi tubuhnya tak lagi kuat, Abah tak punya pilihan selain terus berjalan dan terus berjuang.