Di usia 73 tahun, Abah Niko menjalani hari-harinya bukan di rumah yang hangat, melainkan di sebuah halte bus. Sudah 11 tahun Abah tidur di atas bangku halte, beralaskan kardus, ditemani bantal dan selimut pemberian orang lain. Dinding kaca halte sudah lama hilang. Saat hujan deras, tubuh Abah basah kuyup. Saat malam datang, dingin menusuk tanpa penghalang. Suara kendaraan tak pernah berhenti, tapi Abah sudah terlalu lelah untuk mengeluh.

Dulu, hidup Abah tidak seperti ini. Abah pernah bekerja sebagai sales manager, membantu operasional transportasi, bahkan menjadi kuli bangunan. Namun waktu, usia, dan keadaan perlahan merenggut semua itu. Dua tahun terakhir, Abah bertahan hidup dengan berjualan kopi Rp4.000 per gelas.
Abah bukan tak mau memiliki usaha lain, tapi keadaan ekonominya tidak menyanggupi. Banyak orang berutang dan meminjam uang kepadanya. Abah tak tega menolak. Hingga akhirnya, satu per satu utang itu tak pernah kembali. Modal habis. Kopi tak bisa dibeli lagi. Dagangan menyusut, bahkan pernah tersisa hanya empat bungkus.

Ada hari-hari di mana Abah tidak makan dan tidak berjualan selama dua hari penuh.
Hal itu terjadi karena abah tak lagi punya apapun, bahkan modal. Jika masih bisa makan, Abah hanya makan nasi putih sekali sehari, tanpa lauk. Baginya, membeli nasi dengan lauk seharga belasan ribu adalah kemewahan yang tak sanggup ia jangkau. Saat benar-benar tak punya uang, Abah hanya minum air putih untuk menahan lapar.
Bahkan ketika dagangan ramai, keuntungan maksimal Abah hanya sekitar Rp70.000.
Namun kini, saat sepi, Abah hanya mendapat Rp10.000, itu pun masih harus dipakai untuk membayar air panas termos untuk dua hari. Tak ada sisa untuk kebutuhan hidup. Pernah juga, seharian penuh tidak satu pun orang membeli kopi Abah.
Kesedihan belum berhenti di situ. Saat Abah tertidur di halte, dagangannya pernah dicuri. Kopi, gorengan, rokok, semua lenyap. Orang-orang pernah mencibir, menyebut Abah “tidak niat jualan” karena dagangannya sedikit. Bahkan ada yang terang-terangan menghina, menyebut Abah gelandangan. Namun Abah tidak pernah membalas. Ia memilih diam, lalu mendoakan mereka dengan kebaikan.
Meski hidupnya begitu berat, Abah Niko masih punya mimpi sederhana, yaitu punya usaha kecil kacang bawang miliknya sendiri, dan bisa tinggal di kontrakan yang layak untuk tempat beristirahat dengan layak.
Hari ini, Abah benar-benar berada di titik paling rapuh. Tanpa modal, tanpa tempat tinggal layak, dengan utang yang terus menekan, dan tubuh renta yang terus dipaksa bertahan.
Kalian dapat berpartisipasi dalam gerakan ini dengan menyebarkan campaign dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
