Menahan Sakit! Abah Wasih Tetap Berjualan Minuman Demi Bertahan Hidup

Menahan Sakit! Abah Wasih Tetap Berjualan Minuman Demi Bertahan Hidup

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
65 hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 21:00 WIB

Penggalang Dana

Yayasan Kolaborasi Teman Baik

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

29 April 2026

seorang pria tua berjalan perlahan sambil memikul beban di tangannya. Namanya Abah Wasih, usia 75 tahun. Langkahnya tertatih, tubuhnya bertumpu pada dua tongkat yang menjadi satu-satunya penyangga untuk tetap berdiri. Namun dari sorot matanya, tersimpan satu hal yang tak pernah padam: keinginan untuk terus bertahan hidup dengan caranya sendiri.


Hari-hari Abah Wasih tidaklah mudah. Ia hidup seorang diri, tanpa keluarga yang menemani. Rumah yang dulu menjadi tempatnya pulang kini sudah tiada, terpaksa dijual demi biaya pengobatan. Sejak saat itu, hidupnya benar-benar berubah. Tak ada lagi tempat menetap yang layak, hanya sisa-sisa kekuatan yang ia gunakan untuk melanjutkan hidup. Kecelakaan kerja yang pernah ia alami meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kakinya kini bengkok, nyaris tak mampu menopang tubuhnya. Untuk berjalan beberapa langkah saja, Abah harus berjuang dengan kedua tongkatnya. Setiap langkah bukan hanya tentang bergerak, tapi tentang melawan rasa sakit yang terus ia rasakan.



Kepergian sang istri akibat sakit paru beberapa tahun lalu semakin menambah sunyi dalam hidupnya. Tak ada anak yang bisa menjadi tempat bergantung, tak ada tangan yang menggenggam saat langkahnya goyah. Ia benar-benar menjalani semuanya seorang diri. Namun di tengah segala keterbatasan itu, Abah Wasih tidak memilih menyerah. Ia tetap berjualan es teh keliling. Dengan langkah yang tertatih, ia menyusuri jalan demi jalan, menawarkan dagangannya. Bukan sekadar untuk mencari nafkah, tapi untuk mempertahankan hidup yang masih ia perjuangkan dengan sisa tenaga yang ada. Tak jarang dagangannya sepi pembeli. Penghasilan yang didapat seringkali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, apalagi untuk biaya pengobatan dan tempat tinggal yang layak. Tapi Abah tetap berjalan. Tetap berusaha. Karena baginya, berhenti berarti menyerah pada keadaan. Inilah kisah Abah Wasih. Di usia senjanya, dengan tubuh yang tak lagi kuat dan hidup yang penuh keterbatasan, ia tetap memilih untuk berjuang. Ia tidak meminta dikasihani, ia hanya ingin diberi kesempatan untuk hidup lebih layak.


Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik