Sejak usianya baru satu tahun, hidup Karlina Wulungo berubah. Demam tinggi disertai tangisan tanpa henti menjadi awal dari penderitaan panjang yang harus ia jalani. Sejak saat itu, tumbuh kembangnya terganggu hingga ia didiagnosa suspek cerebral palsy, kondisi yang membuat tubuhnya lemah dan sulit untuk berjalan maupun beraktivitas seperti anak seusianya.
Kini di usia 5 tahun, Karlina hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan terbaring atau berdiam diri di dalam rumah sederhana di Dusun 4, Desa Dulupi. Ia tak bisa berlari, tak bisa bermain bersama teman-temannya, bahkan untuk mulai bersekolah pun belum mampu.
Selama 4 tahun terakhir, Karlina belum pernah mendapatkan penanganan medis yang layak. Bukan karena orang tuanya tidak peduli, tetapi karena keterbatasan biaya. Pengobatan yang dilakukan selama ini hanya sebatas pengobatan tradisional dan tukang urut, tanpa pemeriksaan dokter maupun terapi yang seharusnya ia terima.
Ayah Karlina hanyalah seorang nelayan tradisional dengan penghasilan sekitar Rp500.000 per bulan. Penghasilan itu bahkan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, apalagi untuk biaya berobat ke rumah sakit yang membutuhkan dana besar. Ditambah lagi, akses ke fasilitas kesehatan yang jauh membuat keluarga ini hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Sejak sakit, kehidupan Karlina berubah drastis. Ia mengalami kesulitan berjalan dan berbicara, sehingga hanya bisa menghabiskan waktu di dalam rumah. Masa kecilnya perlahan terenggut tanpa permainan, tanpa sekolah, dan tanpa kepastian kapan ia bisa menjalani hidup seperti anak-anak lainnya.
