Usia yang semakin menua seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat. Namun tidak bagi Abah Yakup. Di usianya yang sudah 86 tahun, ia masih harus berjalan menyusuri jalanan demi bertahan hidup.
Dengan kondisi tuna netra, Abah Yakup melangkah perlahan setiap pagi sejak pukul 6. Ia hanya mengandalkan tongkat di tangannya yang gemetar untuk meraba jalanan di Julok, Aceh Timur. Tanpa bisa melihat, ia tetap memaksakan diri berjualan kerupuk dari kampung ke kampung, berharap ada yang membeli.
Setiap hari, Abah Yakup harus melewati jalanan yang dipenuhi debu tebal sisa banjir. Debu itu tak hanya membuat napasnya sesak, tapi juga membuat orang-orang enggan mendekat, apalagi membeli dagangannya. Kerupuk yang ia jual pun bukan miliknya sendiri. Ia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp2.500 per bungkus.
Namun kenyataannya, seringkali dagangannya tak laku. Bahkan untuk mengembalikan uang modal saja, Abah Yakup kerap tidak mampu.
Menjelang sore, sekitar pukul 17.30, ia pulang dengan tubuh penuh debu dan keranjang yang masih penuh. Dengan langkah lelah, ia hanya bisa terduduk di depan rumahnya. Dalam diam, ia menahan sedih, memikirkan apa yang bisa ia makan esok hari jika dagangannya kembali tak terjual.
Di usia yang sangat senja, saat banyak orang menikmati masa tua, Abah Yakup justru harus berjuang sendirian tanpa kepastian penghasilan. Tubuhnya semakin lemah, penglihatannya telah hilang, namun ia tetap bertahan demi bisa menyambung hidup.
Yuk kita sama-sama bantu perjuangan Yusuf demi kesembuhan Ibunya dengan cara: