Di Tengah Himpitan Hidup Abah Menjaga Asa Terakhir
“Ketika usia tak lagi kuat menopang raga, harapan sering menjadi satu-satunya yang tersisa. Dan hari ini, harapan itu hampir padam…”
Di sebuah sudut kehidupan yang sering luput dari perhatian, waktu seolah berjalan lebih berat bagi Abah Baen. Di usianya yang ke-76 tahun usia yang seharusnya diisi dengan istirahat dan ketenangan, Abah justru masih harus bertarung melawan kerasnya hidup. Tanpa bantuan, hari-harinya bukan hanya sunyi, tapi juga semakin rapuh… seakan setiap detik membawa ancaman kehilangan harapan yang tersisa.
Setiap pagi, dengan tubuh renta dan langkah yang tertatih, Abah Baen menyusuri jalanan menjajakan pisang dagangannya. Di lehernya masih tersisa luka lama akibat tertimpa pohon, luka yang tak pernah benar-benar sembuh, namun tak pernah cukup kuat untuk menghentikan perjuangannya. Demi sekadar mengumpulkan 20 hingga 30 ribu rupiah, Abah terus berjalan, berharap ada yang membeli. Namun saat dagangan tak laku, ia tak punya pilihan… pisang itu ia tukar dengan segenggam beras, agar ia dan kakaknya masih bisa makan hari itu.
Sepuluh tahun lalu, Abah kehilangan istrinya. Sejak saat itu, kesunyian menjadi teman setianya. Tanpa anak, tanpa pasangan, kini ia hanya hidup bersama sang kakak tercinta, Amah, yang berusia 85 tahun dan terbaring lemah akibat stroke. Lebih menyayat hati, Amah tak lagi diurus oleh anaknya sendiri. Di usia senja yang seharusnya penuh kasih, dua saudara ini justru saling menjaga, dalam keterbatasan yang nyaris tak tersisa.
Rumah mereka berdiri seperti menunggu waktu untuk runtuh. Dari luar tampak biasa, namun di dalamnya penuh luka yang tak terlihat. Atapnya bocor di banyak titiksetiap hujan turun, air masuk tanpa ampun, menggenangi lantai hingga menyerupai kolam kecil. Tiang-tiang penyangga mulai rapuh, seolah hanya menunggu satu hembusan waktu untuk roboh dan mengubur harapan yang tersisa.
“Kalau rumah mah, Abah sudah pasrah… mau dibetulin juga uang dari mana? Buat makan sehari-hari saja susahnya minta ampun…” ucap Abah lirih, suaranya bergetar, seperti harapan yang hampir patah.
Malam hari adalah ujian lain. Abah dan Amah harus mencari sudut kecil yang masih kering hanya untuk berbaring. Tak ada kasur layak, tak ada kehangatan selain kebersamaan mereka yang tersisa, dua jiwa renta yang bertahan di tengah dinginnya kehidupan.
Namun di balik semua kepedihan itu, Abah masih menggenggam satu harapan sederhana. Harapan yang mungkin kecil bagi kita, tapi begitu besar baginya.
“Abah mah cuma ingin bisa makan setiap hari… dan bawa Amah berobat. Kasian… sudah tidak ada yang mengurus.”
Harapan itu kini seperti lilin kecil di tengah gelap, berkedip lemah, menunggu uluran tangan untuk tetap menyala.
Insan Baik, waktu tidak berpihak pada Abah dan Amah. Setiap hari yang terlewat tanpa bantuan adalah hari di mana kondisi mereka bisa semakin memburuk. Kita bisa memilih untuk diam atau menjadi alasan harapan itu tetap hidup hari ini.
Mari bantu Abah Baen dan Amah. Sisihkan sebagian rezeki terbaik kita, sekecil apa pun itu. Karena bagi mereka, bantuan kita bukan sekadar angka, melainkan kesempatan untuk bertahan, untuk berobat, dan untuk kembali merasakan hangatnya harapan.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk penunjang kebutuhan Abah Baen dan Amah. Juga akan digunakan untuk penerima manfaat lain dan program sosial kemanusiaan lainnya dibawah naungan Amal Baik Insani.