Di Usia 75 Tahun, Abah Rahman Masih Menjadi Sandaran Anak yang Terluka
Di sebuah rumah sederhana dengan atap yang mulai rapuh dan berlubang, hiduplah seorang lelaki tua bernama Abah Rahman, 75 tahun. Di usia ketika banyak orang menikmati masa tua bersama cucu-cucu, Abah justru masih memikul beban kehidupan seorang diri.
Selama hampir 20 tahun, Abah dengan penuh kesabaran merawat anaknya yang mengalami depresi. Semua bermula ketika sang anak menjalani operasi amandel. Sejak operasi di bagian leher itu, trauma yang begitu dalam perlahan mengubah hidupnya. Rasa takut, cemas, dan tekanan batin membuat kondisi mentalnya terus menurun hingga akhirnya mengalami depresi. Sejak saat itu, ia tak lagi mampu menjalani hidup seperti dahulu.
Tak sekalipun Abah Rahman meninggalkan anaknya. Setiap hari ia menjadi ayah, perawat, sekaligus penyemangat. Saat anaknya terpuruk, Abah selalu ada di sampingnya, menguatkan dengan doa dan kasih sayang yang tak pernah habis.
Ironisnya, tubuh Abah sendiri sudah tak lagi sekuat dulu. Beberapa waktu lalu ia harus menjalani operasi hernia. Namun setelah operasi, kehidupan tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat. Demi bisa membeli beras, obat, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Abah kembali berjualan di pinggir jalan.
Dengan langkah yang mulai pelan dan tubuh yang sering menahan nyeri, Abah menjajakan celana training yang diambil dari orang lain untuk dijual kembali. Dari pagi hingga sore, ia berharap ada pembeli yang mampir. Jika sedang beruntung, penghasilannya hanya sekitar Rp70.000 dalam sehari. Uang itu harus cukup untuk makan, kebutuhan rumah, dan merawat anak yang sangat bergantung padanya.
Saat hujan turun, hati Abah semakin gelisah. Atap rumah yang sudah tua tak lagi mampu menahan derasnya air. Di beberapa bagian, air hujan menetes masuk ke dalam rumah. Ember dan baskom menjadi penampung air yang jatuh dari langit-langit. Namun memperbaiki rumah hanyalah impian yang terus tertunda karena kebutuhan makan selalu menjadi prioritas.
Meski hidup dalam keterbatasan, Abah Rahman tak pernah meminta kemewahan. Ia hanya memiliki dua harapan sederhana: memiliki modal usaha agar dapat berdagang dengan lebih baik tanpa bergantung pada barang titipan orang lain, dan memperbaiki atap rumah agar ia dan anaknya bisa tinggal dengan aman dan nyaman.
Di balik wajah yang dipenuhi keriput itu tersimpan cinta seorang ayah yang begitu besar. Selama dua puluh tahun, Abah memilih tetap bertahan demi anaknya. Tak ada hari libur bagi seorang ayah yang mencintai anaknya sepenuh hati. Tak ada kata menyerah, meski usia terus bertambah dan tenaga semakin berkurang.
Abah Rahman mengajarkan bahwa kasih sayang seorang ayah tidak mengenal batas usia. Bahkan ketika tubuhnya mulai renta, cintanya tetap berdiri paling depan untuk melindungi anak yang dicintainya.
Semoga masih ada tangan-tangan baik yang tergerak untuk membantu meringankan perjuangan Abah Rahman. Karena terkadang, sedikit bantuan dari banyak orang mampu mengubah hidup seseorang yang telah begitu lama berjuang dalam diam.
