Diperbarui 30 October 2026, 15:16 WIB
Pak Saparman adalah seorang penyandang disabilitas berusia 54 tahun yang setiap hari berjualan kopi keliling demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan kondisi tanpa kedua kaki, ia hanya mengandalkan sebuah skateboard usang sebagai alat bantu untuk berpindah tempat saat berjualan.
Ketika kedua tangannya mulai lelah mengayuh tubuhnya di atas skateboard, Pak Saparman terkadang terpaksa berjalan menggunakan kedua lututnya. Sambil menahan rasa lelah dan panasnya terik matahari, ia tetap membawa skateboard dan barang dagangannya agar bisa terus mencari nafkah.
“Libur kalau sudah capek aja, tapi kalaupun sudah capek suka dipaksain jualan... sebab libur dagang, libur makan...” ungkapnya.
Setiap hari, Pak Saparman menyusuri jalan sejauh kurang lebih 4 kilometer, mulai dari gang hingga ke pinggir jalan, untuk menjajakan kopi. Dari setiap gelas kopi yang terjual, ia hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp1.000.
Terkadang, ada pembeli yang memberikan uang lebih setelah melihat kondisinya yang tidak memiliki kedua kaki. Namun, di balik perjuangannya mencari nafkah, Pak Saparman juga harus menghadapi pandangan buruk dari sebagian orang. Ia bahkan sering dituduh hanya berpura-pura berjualan, padahal sebenarnya mengemis atau meminta-minta. Padahal, sejak berangkat dari rumah, niat Pak Saparman hanyalah berjualan untuk mendapatkan penghasilan. Ia ingin tetap bekerja dengan kemampuannya sendiri, bukan sekadar mengharapkan belas kasihan orang lain.
Yuk, jangan biarin Abah Saparman berjuang sendirian. Bantu Beliau dengan cara :
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung