DIHINA HINGGA DILUDAHIN!! Bantu Ibu Disabilitas ini Berjuang Demi Nafkahi Anaknya Sendirian!!
DIHINA HINGGA DILUDAHIN!! Bantu Ibu Disabilitas ini Berjuang Demi Nafkahi Anaknya Sendirian!!

DIHINA HINGGA DILUDAHIN!! Bantu Ibu Disabilitas ini Berjuang Demi Nafkahi Anaknya Sendirian!!

Rp 120.000
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
2
Tercapai
0%
Sisa waktu
29 hari

Diperbarui 26 September 2026, 03:00 WIB

Penggalang Dana

Global Sedekah Movement
Lembaga resmi terverifikasi
Menggalang dana untuk
NGESOT DIJALANAN!! Tukang Jahit DISABILITAS ini Berjuang Nafkahi 4 Anaknya Sendirian

Cerita

25 September 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

"Yaa kalau sekarang lebih susah, Cep... soalnya ibu udah nggak bisa keliling lagi. Jadi kalau ada pesanan aja ngejahitnya." Ucap lirih Bu Aisah sambil terus mengayuh mesin jahit tuanya.



Di balik senyumnya, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu bernama Bu Aisah (51 tahun). Sejak lahir, kedua kakinya tidak bisa digunakan untuk berjalan. Untuk berpindah tempat, beliau harus mengandalkan kedua tangannya dengan cara ngesot, bahkan saat harus keluar rumah mencari nafkah.



Selama 15 tahun, Bu Aisah bekerja sebagai penjahit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan mesin jahit tua, beliau menerima pesanan dari warga sekitar dan bahkan berkeliling dari rumah ke rumah untuk mencari pelanggan.

Namun tiga tahun lalu, rumah tangganya berakhir. Sang suami memilih berpisah, meninggalkan Bu Aisah yang harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak yang masih sekolah.

Sebelum mengalami kecelakaan, penghasilan Bu Aisah sekitar Rp300 ribu per bulan. Meski kecil, beliau tetap berusaha mencukupi kebutuhan keluarga sambil membeli kain, benang, dan perlengkapan jahit.



Sampai suatu hari, saat hendak mengunjungi putrinya yang , Bu Aisah mengalami kecelakaan dan terjatuh dari motor. Sejak saat itu, beliau tak lagi sanggup berkeliling mencari pelanggan.

"Yaa kalau sekarang lebih susah, Cep... soalnya ibu udah nggak keliling lagi. Jadi kalau ada pesanan aja ngejahitnya."

Kini Bu Aisah hanya bisa menunggu pesanan datang. Kalau tidak ada yang membawa pakaian untuk dijahit, tidak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang. Penghasilannya pun turun menjadi sekitar Rp100 ribu per bulan, bahkan terkadang kurang.



Bukan cuma soal ekonomi, Bu Aisah juga harus menahan sakit hati karena sering mendapat perlakuan buruk akibat kondisi fisiknya. Saat berpapasan dengan ibu hamil, beberapa orang bahkan pernah meludah sambil berkata, "Amit-amit Ya Allah..."

"Kadang sedih... cuma mau gimana lagi ya. Nggak apa-apa, mungkin memang sudah jalannya." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.



Di tengah semua itu, Bu Aisah dan keempat anaknya juga tinggal di rumah yang nyaris roboh. Atapnya mulai lapuk dan beberapa bagian rumah sudah berlubang. Saat hujan turun, air masuk ke dalam rumah hingga mereka harus mencari tempat yang masih kering. Meski hidup serba kekurangan, Bu Aisah tidak pernah meminta dikasihani. Beliau hanya ingin tetap bisa bekerja, anak-anaknya terus sekolah, dan keluarganya punya rumah yang layak untuk ditinggali.



Sahabat Kebaikan, mari ulurkan tangan untuk Bu Aisah. InsyaAllah, bantuan dari #OrangBaik akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, membeli bahan jahitan agar beliau tetap bisa bekerja, membantu pendidikan keempat anaknya, memperbaiki rumah, serta kebutuhan dan pemulihan pasca kecelakaan. Setiap rupiah yang #SahabatKebaikan titipkan bisa menjadi harapan baru bagi Bu Aisah dan anak-anaknya. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.

Doa & Donasi

Lihat semua
Firman
Rp 20.000
25 September 2026, 19:29