Pernahkah kita membayangkan berjalan berkilo-kilometer di bawah terik matahari dengan satu kaki yang sakit, hanya untuk mencari keuntungan Rp 15.000?

Itulah perjuangan Pak Yayan. Sejak kecelakaan bus tahun 2002 merenggut kaki kirinya, hidupnya berubah menjadi ujian yang tak kunjung usai. Tak lama setelah kehilangan kakinya, sang istri pun pergi meninggalkannya. Namun, Pak Yayan tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Ada dua nyawa yang bergantung sepenuhnya pada pundaknya.
Kini, Pak Yayan tinggal bersama Mak Cucu (65 tahun), ibunya yang sudah renta, dan Aura, putri kecilnya yang terlahir dengan kondisi kaki terpelintir ke dalam (disabilitas).

Setiap hari, ia berkeliling kampung menjajakan kerupuk. Jika beruntung dan kerupuknya habis, ia membawa pulang Rp 15.000. Uang itulah yang ia bagi tiga untuk makan sehari-hari. Namun, tak jarang ia harus pulang dengan tangan hampa, memaksa ia, ibu, dan anaknya menahan lapar hingga esok hari.

Selain berjualan kerupuk, Pak Yayan juga mengurus kambing milik orang lain. Ia harus menunggu kambing itu beranak hanya untuk mendapatkan sistem bagi hasil. Semua ia lakukan demi satu tujuan: Melihat Aura tumbuh sehat dan ibunya tidak lagi kelaparan.
Sahabat, Pak Yayan tidak butuh belas kasihan, ia butuh kesempatan. Sedikit dari apa yang kita miliki, adalah keajaiban bagi Pak Yayan.