Setiap hari sejak pukul enam pagi, Abah Usup sudah bersiap memanggul dagangan ciloknya. Dengan langkah perlahan, Abah berjualan keliling dari sekolah ke sekolah, berharap dagangannya habis agar bisa membawa pulang sedikit uang untuk keluarga.
Di usia 85 tahun, tubuh Abah Usup sudah tak lagi sekuat dulu. Kakinya sering pegal dan nyeri, badannya kerap terasa sakit, dan asam lambungnya sering kambuh karena menahan lapar. Namun semua itu tak menghentikan Abah untuk terus bekerja. Ia jarang mengeluh, meski setiap langkah terasa semakin berat.

Dari sekitar 500 cilok yang dibawa setiap hari, Abah hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp30.000, itu pun jika ciloknya laku banyak dan harus disetorkan. Jika dagangan tak habis, cilok tersebut terpaksa dijual kembali keesokan harinya. Penghasilan kecil itu harus Abah atur sehemat mungkin demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Semua perjuangan ini Abah lakukan demi keluarganya. Abah Usup masih menafkahi istri dan tiga orang anak. Dua putra Abah mengalami gangguan jiwa (ODGJ) dan hingga kini masih membutuhkan pengobatan serta perhatian khusus. Sementara anak perempuan Abah yang sudah menikah juga hidup dalam keterbatasan ekonomi, sehingga hanya bisa membantu sebisanya.

Di usia yang seharusnya menjadi masa istirahat, Abah Usup justru harus memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Setiap cilok yang dijual bukan sekadar dagangan, melainkan harapan agar keluarganya bisa makan dan anak-anaknya tetap mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Uluran tangan kita dapat membantu meringankan langkah Abah Usup agar perjuangannya di usia senja tak lagi dijalani sendirian.
