Mak Armilah adalah seorang lansia produktif berusia 85 tahun yang kini menjalani hari-harinya seorang diri di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Rumah itu bukan berdiri di atas tanah miliknya sendiri, melainkan hasil swadaya warga di atas tanah orang lain. Seiring usia yang kian menua, kondisi rumah Mak Armilah pun semakin rapuh, atap yang menua, dinding yang mulai lapuk, namun itulah satu-satunya tempat ia berlindung.

Di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat, Mak Armilah masih berusaha mandiri. Setiap hari, ia berjualan bakso di rumahnya. Bakso tersebut ia beli dari pasar, lalu dimasak sendiri menggunakan kayu bakar. Sebelum memasak, Mak Armilah harus terlebih dahulu mencari kayu bakar, mengumpulkannya satu per satu agar bisa menyalakan tungku.
Dari satu pack bakso yang dimasak, keuntungan yang ia dapatkan hanya sekitar Rp10.000, itu pun jika dagangannya habis dan ada pembeli yang datang. Tidak selalu ramai, bahkan sering kali bakso tak habis terjual. Saat menunggu pembeli, Mak Armilah duduk sendiri di rumah kecilnya, berharap ada yang singgah.

Sesekali, Mak Armilah juga menjajakan cuanki pasar ke tetangga sekitar. Dengan tangan renta, ia mengemas dagangannya perlahan, penuh kesabaran. Namun penghasilan dari berjualan ini tidak menentu, bahkan sering kali tidak cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, Mak Armilah kerap bergantung pada kebaikan hati tetangga yang peduli dan membantu seadanya.
Di tengah perjuangan hidup, Mak Armilah juga harus bertahan dengan kondisi kesehatannya. Ia menderita penyakit lambung, sehingga sebagian hasil jualannya sering kali habis untuk biaya berobat dan membeli obat. Meski demikian, Mak Armilah tak pernah mengeluh. Ia terus menjalani hari dengan kesederhanaan, kerja keras, dan doa agar tetap diberi kekuatan.
