“Kalau gak semangat ya gimana, mau minta-minta ke siapa?... Anak juga punya tanggungan sendiri.”
Jawab emak Satisah saat Kami tanya kenapa emak begitu semangat jualan gorengan, padahal emak udah tua dan sering sakit-sakitan.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul, Mak Iyah sudah bangun. Dengan tubuh renta dan langkah pelan, ia mulai menyiapkan adonan gorengan di dapur kontrakan sempitnya. Tangan tuanya mengaduk tepung, mencincang bawang, dan mengupas pisang satu per satu.
“Yang penting Icha bisa sekolah,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis, meski matanya terlihat lelah.
Mak Satisah, 60 tahun, sudah puluhan tahun jualan gorengan keliling. Dari dulu sampai sekarang, penghasilannya tak pernah lebih dari empat puluh ribu per hari. Uangnya itu ia sisihkan sedikit-sedikit, bukan untuk dirinya, tapi untuk biaya sekolah cucunya yang bernama Icha (5 tahun) saat ini baru sekolah TK (Taman Kanak-kanak).
Icha merupakan satu-satunya harapan Mak Satisah. Ia ingin cucunya bisa sekolah tinggi, supaya nggak hidup susah seperti dirinya ditambah Icah pun memiliki cita-cita yang mulia yakni menjadi Dokter.
Selain mengurus Icha, Mak Iyah juga masih menanggung anak perempuannya (ibunya Icha) yang sudah lama tidak bekerja karena sangking sulitnya mencari pekerjaan, serta satu Orang lagi cucunya yang lebih besar (Kakak nya Icha) yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan.
Mereka bertempat tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Dindingnya lembab, atapnya bocor kalau hujan. Setiap bulan Mak Iyah harus membayar kontrakan Rp500 ribu per bulan meski tak jarang sering nunggak, belum lagi bayar listrik sekitar Rp100 ribu perbulan.
Makanya kadang kalau jualannya sepi, Mak Satisah cuma bisa berpikir apa uang ini cukup untuk makan?, dengan menatap uang hasil jualan di tangannya sambil meneteskan air mata.
“Ya Allah, cukupkan rezeki hari ini, biar anak sama cucu bisa makan,” bisiknya lirih.
Meski begitu, Mak Satisah tidak pernah mengeluh. Ia tetap berkeliling sambil menenteng baskom yang berisi gorengan dan terkadang sepulang sekolah atau saat berangkat sekolah Icha suka ikut membantu neneknya tersebut jualan sambil membawa wadah gorengan, meski masih memakai seragam dan menggendong tas nya.
Mereka berdua berjalan langkah demi langkah meski cuca begitu panas saat itu, sambil terus tersenyum Mak Satisah sesekali teriak menawarkan gorengan pada setiap orang yang Ia temui. Buat Mak Satisah, hidup boleh susah, tapi menyerah bukan pilihan.
“Yang penting masih bisa usaha, Cu,” katanya suatu sore saat Icha menemaninya jualan.
Cerita hidup Mak Satisah mungkin sederhana, tapi di balik gorengan yang ia jual setiap hari, tersimpan cinta, pengorbanan, dan harapan yang tak pernah putus demi masa depan kecil bernama Icha.
Di usia senja nya, Mak Satisah masih berjuang sendirian untuk menghidupi keluarga kecilnya dan menyekolahkan cucu tercinta. Dengan penghasilan hanya empat puluh ribu perhari, ia berusaha menutupi kebutuhan hidup, biaya sekolah cucunya dan biaya kontrakan yang tak murah.
Sahabat kebaikan , yuk kita bantu ringankan langkah Mak Satisah. Sekecil apa pun bantuanmu, akan sangat berarti bagi Mak Satisah entah itu untuk biaya kontrakan, listrik, atau pendidikan Icha yang jadi harapan satu-satunya.
Mari sebarkan campaign ini dan berdonasi untuk membantu Abah Ajat. Bantuan donasi akan disalurkan untuk paket pangan, modal usaha serta bantuan lainnya

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama