Tiga tahun sudah Mak Titi (72 tahun) ditinggal suami. Sejak itu, ia harus bertahan hidup seorang diri sambil merawat Nining, anak semata wayangnya yang merupakan penyandang disabilitas. Untuk makan sehari-hari, Mak Titi berjualan ikan asin keliling kampung.

Bungkusan ikan asin yang ia jajakan bukan sekadar dagangan. Itu adalah saksi bisu perjuangan seorang ibu yang selama lebih dari 40 tahun tak pernah lelah merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta.

Nining terlahir dengan kondisi yang tak biasa. Perkembangannya seakan terhenti sejak kecil.
“Dulu kata dokter nanti juga bisa ngomong,” cerita Mak Titi pelan.
Namun harapan itu tak pernah terwujud. Hingga kini, di usia lebih dari 40 tahun, Nining hanya mampu mengucapkan satu kata: “Mama.”

Sejak suaminya meninggal, tak ada lagi tempat Mak Titi bersandar. Ia berjualan ikan asin sambil membawa Nining ke mana pun pergi. “Takut hilang kalau ditinggal,” katanya. Nining memang sering berjalan sendiri, dan dialah satu-satunya keluarga yang Mak Titi punya.

Seharian berkeliling kampung dengan kaki renta dan tangan keriput menggenggam Nining, hasil yang didapat tak seberapa. Jika dagangan habis terjual, Mak Titi hanya membawa pulang sekitar Rp20.000. Jumlah itu harus cukup untuk makan mereka berdua.

Karena usia yang semakin menua, sering kali kaki Mak Titi tak lagi sanggup melangkah jauh. Di hari-hari seperti itu, ia hanya bisa berharap ada tetangga yang datang membeli. Andai punya sedikit modal, Mak Titi ingin membuka warung kecil di rumah, agar tak perlu lagi memaksakan tubuhnya berkeliling.

Kini, Mak Titi hanya ingin satu hal sederhana: bisa hidup layak bersama anaknya di sisa usia.
Mari ulurkan tangan untuk Mak Titi dan Nining.
bantu Emak dengan cara :
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan Emak.
