Di usia 80 tahun, Abah Iing masih harus menari di jalanan dengan kostum badut lusuh. Bukan untuk menghibur, melainkan demi bertahan hidup. Di bawah terik matahari dan hujan, setiap gerakannya adalah harapan agar ada receh yang bisa dibawa pulang untuk makan hari itu.

Dengan penghasilan yang tak menentu, Abah Iing menanggung istrinya yang sakit-sakitan dan kakak iparnya yang mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Setiap hari ia harus menyewa kostum badut sebelum berangkat ke perempatan jalan, tanpa kepastian apakah hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga.

Hidup di kontrakan kecil, tanpa dukungan anak dan tanpa tabungan, Abah Iing bertahan hanya dengan tenaga tua dan doa. Meski lelah dan sering menahan lapar, ia tetap berjuang karena tak punya pilihan lain.

Abah Iing hanya ingin menikmati sisa hidupnya dengan tenang, tanpa harus mengamen di jalanan. Mari ulurkan tangan agar ia bisa melepas topeng badutnya dan menjalani masa tua yang lebih layak dan bermartabat.