“Kalau saya berhenti berusaha, keluarga saya mau makan apa?”
Pa Cucu berusia 35 tahun. Sejak lahir, ia hidup dengan disabilitas di tangan dan kakinya tidak bisa ditekuk, sulit berjalan, bahkan berdiri pun harus bersandar pada tembok terlebih dahulu. Untuk minum air saja, tangannya kerap tak mampu menggenggam dengan kuat hingga air tumpah. Untuk buang air, ia membutuhkan kursi kecil agar bisa bertahan.
Ia tinggal di rumah orang tuanya bersama ayah, istri, dan seorang anak yang masih berusia 2 tahun. Ibunya telah meninggal dunia tiga tahun lalu. Sejak saat itu, Pa Cucu memikul peran sebagai tulang punggung keluargameski dengan tubuh yang tak pernah benar-benar kuat.
Sudah tiga tahun terakhir Pa Cucu bekerja sebagai penjahit. Ia hanya mampu menjahit tas dan mempermak pakaian sederhana. Pekerjaannya pun bukan milik sendiri ia bergantung pada orderan dari usaha orang lain. Penghasilannya tak menentu. Paling besar hanya sekitar Rp60.000, paling sedikit Rp15.000, bahkan sering kali tidak ada sama sekali. Pernah selama seminggu penuh, tak satu pun orderan datang.
Pa Cucu sering berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan jasa jahitnya. Ia tetap berjalan meski kaki terasa sakit, meski panas dan hujan. Jika tak punya uang untuk makan, ia hanya minum air putih untuk menahan lapar. Pernah, Pa Cucu dan keluarganya hanya makan nasi dengan garam. Susu anaknya kini tinggal setengah dan sering tak bisa dibeli lagi.
Pernah ada orang yang berkata, “Kondisi seperti itu bisa usaha apa?” Kata-kata itu sering terngiang di kepalanya, membuatnya bertanya-tanya mengapa ia dilahirkan seperti ini. Bahkan pernah, anak kecil melempari dirinya dengan batu. Pa Cucu juga pernah terjatuh hingga terluka karena tongkat jalannya tersandung batu.
Sering kali, Pa Cucu pulang ke rumah dengan tangan kosong. Ia merasa sedih dan bersalah pada istrinya, lalu meminta maaf karena tak membawa uang untuk makan. Istrinya selalu menerima dengan sabar. Jika Pa Cucu benar-benar tak punya apa-apa, ayahnya ikut membantu dengan menjual beras yang ada di rumah padahal sang ayah baru saja pulih dari operasi lambung bocor.
Di balik semua kesulitan itu, Pa Cucu tetap berusaha kuat. Ia bahkan sering menyemangati sesama penyandang disabilitas agar tidak menyerah. Jika ada rezeki lebih, meski sedikit, ia masih mau berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan.
Pa Cucu hanya memiliki satu harapan sederhana: memiliki usaha jahit sendiri, agar tidak terus bergantung pada orang lain dan bisa memberi kehidupan yang lebih layak untuk keluarganya. Jangan biarkan Pa Cucu terus berjuang sendirian dengan keterbatasannya.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.