Berawal dari benjolan kecil yang sudah ada sejak lahir, tak pernah terobati karena keterbatasan biaya. Kini, benjolan itu tumbuh semakin besar dan berubah menjadi tumor yang menimbulkan rasa sakit, perih, dan penderitaan berkepanjangan bagi Ibu Mira (36 tahun). Sejak dua tahun terakhir, pasca melahirkan anak ketiganya, tumor tersebut terus mengeluarkan cairan bercampur darah, berbau menyengat, dan tak pernah berhenti.
Setiap hari, cairan itu keluar tanpa henti. Ibu Mira seharusnya menggunakan pampers, namun untuk makan saja ia kebingungan. Tak punya pilihan, ia hanya membalut lukanya dengan kain atau sarung.
“24 jam keluar terus cairannya… beli pampers nggak mampu, buat makan aja saya sering bingung,” lirihnya, menahan perih dan malu yang ia pendam sendiri.
Di tengah rasa sakitnya, Ibu Mira harus tetap kuat. Ia tinggal bersama ketiga anaknya di rumah kontrakan yang sudah menunggak dua tahun. Suaminya, Pak Mulyana, menderita penyakit paru-paru menular hingga harus mengasingkan diri di belakang rumah orang tuanya, hanya beralaskan gorden. Lebih menyakitkan lagi, ketiga anak mereka juga menderita penyakit yang sama dan kini tengah menjalani pengobatan. Kondisi Pak Mulyana yang lemah membuatnya tak lagi mampu bekerja.
Kini, Ibu Mira menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dengan kondisi tubuh yang sakit dan bau luka yang menyengat, ia hanya bisa bekerja sebagai marbot masjid, membersihkan masjid dan merapikan alat salat, dibayar seikhlasnya. Penghasilannya tak menentu, bahkan untuk makan pun mereka hanya bergantung pada program makan gratis pemerintah bagi anak-anaknya. Sementara itu, kebutuhan hidup dan biaya berobat memaksanya terus berutang… utang yang hingga kini belum mampu ia lunasi.
Untuk berobat, Ibu Mira harus menempuh perjalanan jauh ke luar kota dengan angkutan umum, bermodal uang pemberian orang lain. Sesampainya di sana, ia tak punya tempat tinggal. Pernah menginap di rumah singgah, namun hanya bertahan sehari.
“Saya terpaksa keluar karena aroma sakit saya mengganggu pasien lain. Akhirnya saya tidur di masjid,” ucapnya pelan.
Di tengah semua penderitaan itu, harapan Ibu Mira hanya satu: sembuh. Ia ingin hidup lebih lama, merawat anak-anaknya hingga dewasa, melihat mereka menggapai cita-cita, dan tetap mendampingi keluarganya.
#OrangBaik, maukah kamu menjadi bagian dari harapan Ibu Mira?
Bantuanmu hari ini adalah langkah kecil yang berarti besar, untuk pengobatan, kebutuhan hidup, dan masa depan tiga anak yang masih sangat membutuhkan ibunya.
Mari ulurkan tangan, ringankan beban Ibu Mira, dan bantu ia kembali hidup tanpa rasa sakit.
Setiap donasi adalah harapan. Setiap doa adalah kekuatan.
1. Klik Donasi Sekarang;
2. Masukan nominal donasinya;
3. Pilih metode pembayaran;
4. Dapatkan laporan via email.