“Kaki saya ke mana… Saya mau kerja di mana lagi. Masa depan saya hancur,” katanya pelan.
Padahal Ridwan (20 Tahun) punya cita-cita yang begitu mulia. Ia ingin menjadi guru ngaji. Ia ingin hidupnya bermanfaat, ingin pahala jariyah terus mengalir hingga akhir hayat. Kini harapannya sederhana, ia hanya ingin memiliki kaki palsu agar bisa kembali berdiri, kembali melangkah, kembali berguna.
Pak Wahyu, 50 tahun, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sedrastis ini. Anak pertamanya, Ridwan, pergi pagi itu dengan harapan sederhana mencari pekerjaan bersama temannya. Tak ada firasat, tak ada pamit yang terasa berbeda. Hanya doa ayah yang selalu sama, semoga anaknya sukses dan pulang dengan selamat.
Namun takdir menjemput di sebuah tikungan tajam. Dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju kencang, memaksa menyalip di tikungan. Jalan diambil, arah dilanggar. Teman Ridwan yang mengendarai motor kaget, kehilangan kendali. Tabrakan itu tak terhindarkan. Semuanya terjadi begitu cepat.
Saksi mata melihat tubuh Ridwan terpental sejauh lima meter. Kaki kanannya putus. Perutnya robek hingga usus terurai keluar. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Ridwan dilarikan ke IGD oleh petugas lakalantas. Banyak yang menyangka ia tak akan bertahan. Bahkan dokter pun terdiam, terkagum dengan kekuatan Ridwan melawan maut.
Enam bulan lamanya Ridwan terbaring di rumah sakit, keluar masuk ruang operasi, koma, dan berjuang antara hidup dan mati. Hingga suatu hari ia terbangun. Saat akhirnya ia sadar dan melihat tubuhnya sendiri, Ridwan menangis.
Di sisi lain, Pak Wahyu juga sedang berjuang dengan lukanya sendiri. Dulu ia adalah seorang koki di perusahaan kebun teh. Namun perusahaan itu beralih fungsi dan terjadi PHK massal. Sejak saat itu hidupnya jatuh perlahan. Kini ia bekerja sebagai badut jalanan.
Setiap hari Pak Wahyu menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer menggunakan angkutan umum. Penghasilannya hanya sekitar 40–60 ribu rupiah per hari, itu pun masih kotor, belum dipotong biaya makan dan transportasi. Kostum dan speaker yang ia gunakan pun harus disewa 30 ribu rupiah per hari.
“Kadang teriris hati saya kalau pulang nggak bawa uang. Berasa jadi ayah yang nggak berguna,” ucapnya.
Ridwan kini sudah dalam tahap penyembuhan di rumah. Tak ada perawat. Hanya Pak Wahyu yang setiap hari membersihkan jahitan, mengganti perban di perut dan kaki anaknya. Cairan NaCl, kasa steril, dan kebutuhan penunjang pengobatan harus dibeli sendiri.
Pak Wahyu masih menyimpan harapan. Ia ingin memiliki usaha kecil agar bisa kembali ke keahliannya sebagai tukang masak. Ia ingin suatu hari nanti, saat Ridwan pulih, ia bisa mengajarkan anaknya berwirausaha, agar Ridwan tetap punya masa depan meski dengan keterbatasan.
Namun hidup terus menguji. Sejak di-PHK dan menjadi badut, Pak Wahyu sudah dua kali diusir dari kontrakan. Bahkan saat Ridwan masih terbaring sakit pun mereka tetap diminta pergi karena menunggak pembayaran.
“Saya punya kontrakan buat usaha, bukan buat sedekah,” ujar salah satu pemilik kontrakan itu.
Kini ini adalah kontrakan ketiga mereka. Dan tunggakan kembali menghantui. Ancaman diusir kembali terasa semakin dekat.
“Jangankan buat bayar kontrakan. Buat pengobatan dan makan keluarga saja saya kekurangan,” ucap Pak Wahyu.
Sahabat Kebaikan, Ridwan kehilangan kakinya, Pak Wahyu kehilangan pekerjaannya. Tapi mereka belum kehilangan harapan. Mereka hanya butuh uluran tangan agar bisa bertahan. Mari kita bantu Pak Wahyu dan Ridwan. Sedikit dari kita, sangat berarti untuk mereka. Karena di balik luka mereka, ada harapan yang sedang berjuang untuk hidup.
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran
5. Dapatkan laporan melalui email

Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pemenuhan penunjang kesehatan M.Ridwan serta Pemenuhan Kebutuhan hidup sehari-hari keluarga Pak Wahyu. Dan jika terdapat kelebihan dana, akan digunakan untuk Penerima manfaat lain nya serta Program- program yang berada dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.