Pak Ape dulu adalah seorang ayah yang bekerja keras dan menjadi sandaran keluarganya. Namun sebuah sakit panas tinggi merenggut kemampuannya untuk berdiri dan berjalan normal. Kini, Pak Ape hanya bisa berjalan dengan bertumpu pada lutut. Bersamaan dengan runtuhnya kondisi fisiknya, hidupnya pun ikut runtuh perlahan.

Sejak sakit itu, keluarga yang dulu ia jaga satu per satu pergi. Istri meninggalkannya, dan anak semata wayangnya menjauh karena rasa malu. Kini Pak Ape menjalani hari-harinya seorang diri, bertahan hidup dengan berjualan mainan plastik titipan tetangga di pinggir sekolah. Keuntungannya hanya beberapa ribu rupiah, bahkan sering kali pulang tanpa membawa apa pun.

Untuk makan, Pak Ape kerap menahan lapar. Jika beruntung, tetangga memberinya sebungkus nasi. Jika tidak, ia memilih berpuasa karena memang tak ada yang bisa dimakan. Ia tinggal di rumah yang nyaris roboh atap bocor, dinding retak, dan tiang bambu yang rapuh setiap malam dilalui dengan rasa takut rumah itu runtuh saat ia tertidur.

Hari ini, Pak Ape tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup, tetapi juga kesempatan untuk kembali hidup layak. Perbaikan rumah, pemenuhan kebutuhan dasar, dan dukungan kesehatan adalah harapan kecilnya agar ia bisa kembali tersenyum dan suatu hari nanti memeluk anaknya tanpa rasa malu. Uluran tangan Anda adalah langkah nyata untuk mengembalikan martabat dan harapan Pak Ape.