Hallo #sahabatsapa apakabar?
Semoga kita semua berada dalam lindungan-Nya, dikelilingi oleh kebaikan, dilancarkan segala aktifitasnya, diberikan kesehatan serta panjang umur Aamiin YRA
Salam sapa, salam kemanusiaan! Hari ini kami dari relawan SAPA mengunjungi kediaman Luthfi Barkah Hermana Bayi mungil berusia 3 bulan tinggal di wilayah Kabupaten Tasikmalaya mengidap penyakit bawaan lahir dengan diagnosa Routine Child Health Examination (Z00. 1) dan Enlarged Lymph Nodes (R59) yang mana saat ini sedang malakukan pengobatan di RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya sejak bulan Mei 2025.
Dokumentasi adik Luthfi 14 Mei 2025 di rawat inap di RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.
Saat berada dalam kandungan, Ibunda adik Luthfi tidak pernah mengeluhkan apapun apalagi pernah jatuh seperti yang tanyakan orang-orang disekitar rumahnya adik Luthfi bahkan saat lahir juga Alhamdulillah kondisinya sangat baik dan dinyatakan normal oleh bidan setempat. Namun setelah usianya menginjak 1 minggu tiba-tiba nafas adik Luthfi terdengar berbeda bahkan tergolong cepat. Stelah dibeikan obat seadanya, 2 hari kemudian ibunda adik Luthfi memberi tahu Pak Deni ayah dari adik Luthfi karena kondisinya semakin memburuk dan sore itu juga Pak Deni langsung membawa anaknya ke Bidan setempat karena memang saat itu belum ada BPJS baik yang gratis ataupun yang berbayar.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Bidan setempat langsung menyarankan agar adik Luthfi segera dibawa ke dokter spesialis anak sebab kemungkinan ada kelainan pada adik Luthfi yang harus diperiksa lebih detail dan di bidan tersebut tidak ada alat yang memadai, selain itu juga usia adik Luthfi saat itu masih 9 hari.
âBu Bidan, kira-kira harus ada uang berapa untuk ke dokter spesialis anak ? â Ujar sang Ibu
âkalo hanya sekedar pemeriksaan dan obat biasanya siapin saja sekitar 750 ribu, namun jika harus rotgen dan pemeriksaan lainnya itu bisa lebih buâ Ujar Ibu Bidan.
Sontak orang tua adik Luthfi menghelas dada dengan biaya yang begitu besar untuk 1 kali pemeriksaan sedangkan saat itu Pak Deni sedang tidak bekerja akibat dari kecelakaan saat bekerja di sebuah budidaya jamur yang berakhir pemutusan kerja karena tangannya tergilir parah dan tidak mampu membawa beban yang terlalu berat.
7 hari kemudian saudaranya pak Deni menyarankankan agar anaknya dibawa ke dokter terdekat yang katnya pengobatannya bagus. Tanpa berfikir Panjang orang tua adik Luthfi nekat meminjam uang sebesar 200 ribu ke saudaranya untuk membawa anaknya berobat ke dokter/mantri tersebut dengan harapan bisa sembuh tanpa harus dibawa ke dokter spesialis. Namun setelah dilakukan pemeriksaan jawabannya masih tetap sama harus dibawa ke dokter spesialis untuk dilakukan pemeriksaan lanjut, terlebih ada pembengkakkan sebesar biji kelereng di bagian leher sebelah kiri yang diduga kelenjar getah bening yang sudah diidapnya saat dalam kandungan.
âYa Allah, belum juga sembuh sesak nafas anak saya sekarang malah ada gejala sakit yang baruâ Ujar sang Ayah
Keluahan adik Luthfi saat ini seringkali terjadi demam, tubuhnya tidak berkembang dan terhambat, susah minum Asi seperti hilang nafsu makan, sering merenggek nangis keras secara tiba-tiba, bahkan saat malam hari sering nangis dan sulit tidur. Aktifitas yang mengganggu adik Luthfi diantaranya tidak seperti anak seusianya, pertumbuhan sangat terhambat bahkan komplikasi yang di idapnya ternyata sangat bahaya dan dapat membahayakan kondisi anak seusianya.
Bukan tidak ingin mengobati sibuah hati ! keadaan yang sedang terpuruk dalam berbagai sektor membuat orang tua adik Luthfi merasa terpukul dengan kondisi anaknya yang belum bisa beliau perjuangkan seperti anak yang lainnya.
Dokumentasi Kondisi Rumah Adik Luthfi.
Dengan kondisi yang ada, saat itu Pak Deni memaksakan diri walaupun belum pulih akibat kecelakaan yang menimpanya, namun untuk memenuhi kebutuhan hidup ditambah lagi pengobatan anaknya yang harus segera beliau akhirnya bekerja menjadi Buruh pengrajin Seeng atau langseung dengan upah yang tidak menentu paling 1 hari dari pagi sampai sore beliau bisa menghasilkan upah sebesar Rp. 55.000,- per hari dan itupun jika bahan untuk membuatnya ada karena di tempatnya bekerja beliau hanya menunggu bahan mentahnya dikirim dari penampung barang sehingga dalam 1 bulan paling hanya sekitar 18 hari efektif bekerja dan upah tersebut di cukup-cukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dokumentasi saat Ibunda adik Luthfi bekerja.
Selain Pak Deni, Ibu Nina juga ikut membantu mengumpulkan uang untuk pengobatan anaknya dengan cara bekerja sebagai buruh jahit di tetangga rumahnya dengan upah sebesar Rp.30.000,- per hari dan itupun jika anaknya sedang tidak rewel.
Dokumentasi saat Ibunda adik Luthfi bekerja.
Alhamdulillah Tim Volunteer SAPA sudah bergerak membantu mendorong program pemerintah untuk meluncurkan BPJS Gratis/KIS yang kini sudah aktif dan sedang proses mulai berobat dengan harapan agar adik Luthfi bisa segera ada tindakan hingga bisa segera pulih seperti anak seusianya.
Pak Deni dan Ibu Nina sangat berharap agar ujian ini bisa segera berlalu dan anaknya bisa segera sembuh serta pertumbuhannya tidak terhambat seperti anak seusianya.
Untuk itu besar harapan kami agar seluruh #sahabatsapa dapat mendukung perjuangan Pak Deni dan Ibu Nina untuk bisa meneruskan pengobatan anaknya hingga sembuh.
#sahabatsapa, mari bantu pejuang kami. Jangan biarkan masa tua dan masa depan keluarganya terus terpuruk. Yuk dukung program ini dengan cara:
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran
5. Dapatkan laporan melalui email
Tak hanya berdonasi secara materi, #sahabatsapa juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar lebih banyak lagi tangan-tangan malaikat mengiringi perjuangan mereka.

Terima kasih, #Sahabatsapa!