Iringi Perjuangan Bayi Mungil dari Pelosok berobat di Provinsi

Iringi Perjuangan Bayi Mungil dari Pelosok berobat di Provinsi

Rp 0
terkumpul dari Rp 80.000.000
0 Donatur
hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 06 October 2025 22:38 WIB

Penggalang Dana

SAPA Foundation

Lembaga Resmi Terverifikasi

Deskripsi

06 October 2025

Hallo apakabar #sahabatsapa ?

Semoga kita semua berada dalam lindungan-Nya, dikelilingi oleh kebaikan, dilancarkan segala aktifitasnya, diberikan kesehatan serta panjang umur Aamiin YRA 

Salam sapa, salam kemanusiaan! Hari ini kami dari relawan SAPA mengunjungi kediaman Ahmad Padil Ali berusia 3 bulan yang mana saat ini tinggal di wilayah kabupaten Cianjur mengidap anorectal fistula sejak dalam kandungan yang dikeahui setelah lahir dan saat ini pengobatan menggunakan BPJS di RSUP Dr.Hasan Sadikin Kota Bandung.

Awalya ibu Nita curiga akan kondisi kandungannya yang tidak kunjung melahirkan sedangkan tetangganya yang usia kandungannya sama sudah melaihirkan. Ibu Nita selalu ikut pemeriksaan rutin posyandu, namun setiap kali diperiksa usia kandungnanya terus terusan 9 bulan sehingga Pak Edi suami Ibu Nita menyarankan agar beliau diperiksakan langsung ke Rumah Sakit Daerah Cimacan Kabupaten Cianjur. 

Esoknya Ibu Nita memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata benar usia kandungannya sudah melebihi 9 bulan bahkan hampir memasuki usia 11 bulan sehingga saat itu juga Ibu Nita diharuskan untuk langsung dilakukan rawat inap karena air ketubannya juga sudah pecah.

Dokumentasi adik Padil saat dirawat inap pasca lahir.

Pak Edi sempat bingung dikarenakan saat itu BPJS yang Gratis dari pemerintah tiba-tiba menjadi Non Aktif tidak bisa digunakan sedangkan ibu Nita harus dilakukan tindakan sesar dan harus menyiapkan biaya sebesar 15juta rupiah. Tanpa berfikir panjang, pak Edi menyetujui tindakan tersebut agar bisa menyelamatkan anak yang ada didalam kandungan walaupun saat itu ia hanya mempunyai uang sebesar Rp.500.000,- untuk bekal selama dilakukan rawat inap. Alhamdulillah proses persalinan Ibu Nita lancar dengan tindakan sesar dan Pak Edi sangat Bahagia mendengar tangisan pertama sang anak serta berharap agar anak dan ibunya bisa segera bisa pulih dan pulang ke kampung halaman. 

Tidak disangka setelah 3 hari dilakukan rawat inap, adik Ahmad seringkali tidurnya tidak nyenyak, nafas terlihat sesak bahkan seringkali mendadak menangis tidak karuan seperti yang kesakitan sehingga saat itu juga pak Edi menginformasikan kepada perawat Rumah Sakit akan kondisi anaknya tersebut. Esoknya dokter melakukan pemeriksaan lanjutan karena adanya aduan tersebut, terlebih saat dilakukan pemeriksaan kondisi perut adik Ahmad semakin membesar tidak seperti anak biasanya dan buang air besarpun sangat sedikit.

Dokuemntasi saat akan dilakukan pemeriksaan USG.

Berbagai pemeriksaan dilakukan mulai dari USG, EKG, LAB dan lain-lain sehingga setelah ada hasil pemeriksaan tersebut ternyata adik Ahmad mempunyai kelianan usus bawaan lahir bahkan dokterpun langsung menanyakan riwayat kandungan dari awal sampai melahirkan. Setelah mendapatkan kesimpulan dari riwatat serta hasil yang ada, dokterpun harus merujuk adik Ahmad ke Rumah Sakit Umum Provinsi Dr.Hasan Sadikin Kota Bandung, sebab di RS Daerah keterbatasan alat. 

Belum selesai permasalahan pembayaran biaya operasi sesar pak Edi malah harus menyiapkan kembali uang untuk tindakan operasi anak bungsunya tersebut sebab pembuatan BPJS baru agar dapat digunakan harus menunggu 14 hari sedangkan dari hasil pemeriksaan sebelumnya adik Ahmad harus segera dilakukan operasi kolostomi di RSHS Bandung untuk pemindahan lubang BAB kebagian perut efek dari kelainan anus yang di idapnya karena jika tidak segera dilakukan tindakan nyawanya dapat terancam.


Dokumentasi adik Padil saat diganti plastik untuk buang air besar dibagian perutnya.

Pak Edi tidak terlalu banyak berfikir dalam mengambil keputusan, walaupun beliau tidak mempunyai tabungan bahkan uang perbekalan sudah hampir habis beliau menyetujui tindakan operasi tersebut agar anaknya dapat terselamatkan. Saat itu Ibu Nita belum mengetahui akan kondisi anak bungsunya yang demikian sebab kondisinya yang masih lemah usai tindakan sesar dan sedang dilakukan juga rawat inap maka Pak Edi tidak memberitahu anaknya dibawa ke RSHS Bandung untuk dilakukan tindakan operasi. 

Alhamdulillah, tindakan operasi pemindahan lubang buang air besar adik Ahmad berjalan lancar, namun dokter menyarankan agar segera dibuatkan BPJS karena tindakan operasi adik Ahmad tidak cukup 1 kali, melainkan minimal 3 kali tindakan operasi mulai dari tindakan operasi pemindahan ke perut, operasi tindakan operasi lubang anus dan pemotongan usus yang bermasalah dan terakhir tindakan operasi pemindahan anus yang diperut kembali ke asal dan buang air besar normal lagi sebagaimana anak lain seusianya. 

Pak Edi semakin bingung dalam menghadapi situasi yang demikian apa lagi setelah ibu Nita diberikan informasi terkait kondisi anaknya, istrinya tersebut langsung menangis dan membuat kondisinya drop.

“mah jangan jadi fikiran, urusan biaya nanti kita ikhtiarkan walaupun harus menjual semua barang yang ada yang penting anak kita tertolong dan bisa segera sehat” ujar pak Edi kepada sang istri.

Dokumentasi Pak Edi saat pulang bekerja langsung ke Rumah Sakit.

Pak Edi yang bekerja sebagai buruh proyek bangunan di DKI Jakarta dimana upah saat bekerja sebesar Rp.150.000,- per hari dan sisa kontrakan serta konsumsi selama bekerja paling sebsar Rp.80.000,- naas pekerjaannya hilang dikeluarkan oleh perusahaannya karena 20 hari tidak masuk bekerja karena harus mengurus pengobatan istri dan anaknya, tetapi beliau tetap berjuang mencari pekerjaan dikampung halamannya agar bisa terus melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit tingkat Provinsi yakni di RSHS Kota Bandung. 

3 buah motor hasil bekerja selama ini beliau jual untuk memenuhi kebutuhan biaya berobat dan biaya operasi sesar, sedangkan untuk melakukan pengobatan ke Rumah Sakit di Kota Bandung beliau harus menyiapkan uang sedikitnya sebesar Rp.1.500.000,- untuk 1 kali pemberangkatan dimana uang tersebut untuk biaya transportasi sebesar 1 juta dan bekal selama berobat sebesar 500ribu. Pak Edi tetap berjuang walaupun jika sedang tidak ada uang untuk berobat beliau harus pinjam kepada siapapun agar anaknya bisa ters berobat hingga tuntas. Beliau berharap agar pengobatan anaknya bisa segera selesai dan sembuh sperti anak yang lainnya.

#sahabatsapa, mari dukung pengobatannya agar terus berjalan sampai kondisinya membaik? Jangan biarkan hal buruk terjadi begitu cepat! Mari berbagi kebaikan dengan cara:

1. Klik "DONASI SEKARANG" 

2. Masukkan nominal donasi 

3. Pilih metode pembayaran 

4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran 

5. Dapatkan laporan melalui email  

Tak hanya berdonasi secara materi, #sahabatsapa juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar lebih banyak lagi tangan-tangan malaikat mengiringi perjuangan mereka. 

Terima kasih, #sahabatsapa

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik