Sejak lahir, Beryl menderita hemangioma parah atau tumor langka yang terus menggerogoti kakinya yang kini terlihat semakin membusuk seperti luka bakar, panas perih sakit Beryl rasakan hanya bisa menangis kesakitan.
Puluhan kali operasi dialami bocah 7 tahun ini. Satu-satunya cara agar tumor tak menjalar hanya dengan mengamputasi kaki Beryl.
Sejak saat itu, dunia Beryl berubah. Ia harus belajar berjalan dengan kedua tangannya, sering kali terjatuh saat mencoba berdiri tegak. Ia belum bersekolah karena biaya habis untuk mengobati tumornya. Lebih menyakitkan lagi, teman-teman sebayanya sering mengejeknya dengan julukan menyakitkan, buntung.
Namun yang paling menyakitkan adalah kepergian sang ayah. Tidak mampu menanggung biaya pengobatan Beryl, Ayahnya memilih pergi meninggalkan keluarga saat kondisi Beryl semakin parah. Ibunya, Bu Rianti berjuang sendirian. Dengan 50rb satu minggu dari menjadi sales pameran baju, ia kebingungan untuk mencukupi kebutuhan Beryl.