Abah Abon (54 tahun), pedagang asongan yang telah menjalani hidup tanpa kedua tangan selama hampir 30 tahun. Puluhan tahun lalu, Abah bekerja sebagai buruh kilang padi atau heleran beras di kampungnya. Upahnya kecil, namun cukup untuk menyambung hidup keluarga. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan kerja mengubah hidup Abah selamanya.

Saat itu, Abah sedang memikul padi untuk dimasukkan ke mesin penggilingan. Ketika mesin dinyalakan, karet penggeraknya sempat macet. Abah mencoba memegangnya dengan tangan kanan, dan tiba-tiba mesin kembali normal. Seketika tubuh Abah terseret. Dalam upaya menyelamatkan tangan kanannya, Abah menahan dengan tangan kiri. Namun naas, kedua tangan Abah justru tersangkut dan tergiling roda besar mesin. Tidak ada siapa pun di lokasi saat itu.
Sejak kejadian itu, Abah sempat kehilangan harapan. Hampir tiga tahun Abah memilih mengurung diri di rumah, merasa minder dan takut menjadi beban keluarga. Namun, dengan dukungan istrinya, Abah kembali percaya diri untuk bekerja kembali sebagai pedangan asongan.

Karena tidak memiliki tangan, Abah membiarkan pembeli mengambil barang dagangan sendiri. Uang pembayaran dan kembalian disediakan di kantong khusus agar bisa diambil mandiri. Untuk makan, minum, atau beribadah saat berdagang, Abah sering harus meminta bantuan pedagang lain. Meski terkadang merasa sungkan, mereka justru menjadi penopang semangat Abah selain keluarga.
Keinginan terbesar Abah sederhana:
memiliki modal yang cukup untuk membuka warung kecil, agar tidak perlu terus berjalan jauh dan bisa sedikit demi sedikit menabung, bahkan menyimpan harapan suatu hari dapat pergi ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah.
Di usia yang tak lagi muda, dengan keterbatasan fisik yang luar biasa, Abah Abon tetap memilih bertahan.
Bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena cintanya pada keluarga dan keyakinannya kepada Allah tak pernah putus.
Hari ini, Abah Abon membutuhkan uluran tangan kita.
Agar langkahnya tak lagi seberat ini.
Agar doanya tentang kehidupan yang lebih layak bisa perlahan terwujud.
