Di usia 73 tahun, saat kebanyakan orang menghabiskan hari dengan beristirahat, Abah Damiri justru masih harus berjalan kaki menyusuri jalanan. Dengan penglihatan yang semakin kabur dan pendengaran yang melemah, Abah tetap menggenggam ikat-ikat petai, menawarkan dagangannya dari pagi hingga sore hari. Setiap langkah tertatihnya adalah perjuangan untuk satu tujuan sederhana, bisa makan hari ini.

Dulu Abah Damiri bekerja sebagai tukang becak. Namun usia dan kondisi fisik memaksanya berhenti. Sejak itu, Abah beralih berjualan petai. Sayangnya, dagangannya sering kali tak habis terjual. Petai yang tak laku harus dibawa pulang kembali, bersama rasa lelah dan kekhawatiran tentang hari esok. Penghasilannya tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk sekali makan.
Abah sebenarnya memiliki anak, tetapi mereka hidup terpisah dengan kondisi ekonomi yang juga pas-pasan. Bantuan yang diharapkan tak selalu datang. Beruntung, masih ada orang-orang baik di sekitarnya yang sesekali memberikan makanan. Namun tentu, hidup tak bisa selamanya bergantung pada belas kasihan.

Di balik kegigihannya berjualan, Abah menyimpan beban lain. Hutang lama yang belum lunas, sisa dari usaha kecil yang pernah ia coba bangun setelah berhenti menarik becak. Ia juga harus rutin memeriksakan kondisi kakinya yang sudah sakit selama kurang lebih empat tahun. Sayangnya, berobat ke dokter sering kali menjadi pilihan terakhir, hanya saat ada uang lebih.
Setiap pulang berjualan, Abah kerap mengeluh sakit pada kakinya. Istrinya, Mak Rasih, setia memijat kaki Abah sambil menahan sedih.
“Kalau enggak jualan, gimana mau makan… anak-anak juga enggak punya,” ucap Mak Rasih lirih.
Di usia senja, Abah Damiri dan Mak Rasih tidak bermimpi muluk. Mereka hanya berharap bisa memiliki usaha kecil di rumah, agar Abah tak perlu lagi berjalan jauh setiap hari. Salah satu harapan sederhana mereka adalah membuka usaha bensin eceran di depan rumah. Namun tanpa modal, harapan itu masih sebatas doa.
Orang Baik, maukah kamu membantu meringankan beban Abah Damiri?ð¥º
Bantuanmu hari ini bisa menjadi jalan agar Abah dan Mak Rasih menjalani hari tua dengan lebih layak, tanpa harus mempertaruhkan kesehatan demi sesuap makan.â¤ï¸