Kedua kaki Abah Saefudin diamputasi, tapi langkahnya untuk menafkahi keluarga tak pernah berhenti. Kecelakaan pertama membuat salah satu kakinya harus diamputasi. Namun bukannya berhenti, ia tetap memaksa diri beraktivitas demi keluarga. Naas, musibah datang kedua kali. Abah terjatuh bersama istrinya, hingga kakinya yang tersisa pun ikut hancur terlindas mobil. Kini, Abah kehilangan kedua kakinya. Meski tubuhnya tak lagi utuh, ia tetap memilih untuk bekerja.

Dengan sisa tenaga, Abah berkeliling dari pagi hingga sore menjual jasa tambah angin ban motor. Tragisnya, sering kali ia pulang tanpa membawa sepeserpun, bahkan pernah seminggu penuh tak ada pelanggan sama sekali. Dulu, dua kaki itu adalah tumpuan keluarga. Kini, Abah hanya mengandalkan kaki tersisa seadanya dan semangat yang tak pernah padam. Bayangkan, tubuh yang dulu tegap kini hanya bisa bertumpu pada sisa tenaga. Tapi bukan rasa sakit fisik yang paling menghantuinya, melainkan rasa takut hasil kerjanya dianggap sepele, seolah jerih payahnya tak bernilai di mata orang lain.

Meski kehilangan kedua kakinya, Abah tak pernah kehilangan harga diri. Ia menolak untuk sekadar berdiam diri. Yang ia harapkan sederhana, setiap tetes keringatnya dihargai, setiap usaha kecilnya dilihat. Ada haru yang tak terlukiskan saat ngelihat Abah tetap berkeliling, menanti pelanggan yang mau memberi kesempatan.
Yuk, bantu hargai jerih payahnya, karena di balik tubuh yang tak lagi utuh, ada hati yang tetap berdiri tegak demi keluarganya.
