Mulyana (50) adalah seorang ayah tangguh yang setiap hari bekerja mengantarkan air galon demi menghidupi anak semata wayangnya. Dari setiap galon yang diantar, ia hanya dihargai Rp1.000. Dalam sehari, penghasilannya sekitar Rp50.000 itu pun jika kondisi tubuhnya memungkinkan. Mulyana menderita penyakit paru-paru dan asma. Namun di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, ia tetap berjuang merawat anaknya, Septiyana, yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra).

Sejak usia 3 tahun, Septiyana telah kehilangan sosok ibu. Sang ibu meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami duka mendalam, anak kedua yang dikandung meninggal di dalam rahim pada usia kandungan 3 bulan, dan enam bulan kemudian beliau wafat karena sakit. Sejak saat itu, Mulyana menjadi satu-satunya sandaran hidup Septiyana.
Saat berusia 1 tahun, Septiyana pernah menjalani dua kali operasi mata agar matanya bisa terbuka. Namun keterbatasan penglihatan tetap ia alami hingga kini. Karena kondisi ekonomi dan jarak, Septiyana belum bisa bersekolah. SLB yang terlalu jauh dan tidak terjangkau oleh biaya keluarga kecil ini.
Dalam kesehariannya, Septiyana hanya bermain di sekitar rumah, bersepeda, bermain ayunan, dan menemani ayahnya. Bahkan, saat Mulyana harus bekerja mengantar galon, Septiyana sering ikut karena tidak ada yang menjaga di rumah. Tak jarang, Septiyana harus menghadapi ejekan dan perundungan dari lingkungan sekitar karena keterbatasannya.

Meski begitu, semangat Septiyana tak pernah padam. Ia memiliki satu mimpi besar: belajar di pesantren khusus tunanetra. Ia ingin mendalami ilmu agama, belajar mengaji, dan hidup di lingkungan yang aman serta mendukung. Sang ayah pun setiap hari mengajarinya mengaji dan bersholawat dengan penuh kesabaran dan cinta.
Pesantren menjadi harapan terbesar bagi Septiyana, tempat di mana ia bisa belajar, tumbuh, dan dihargai apa adanya. Namun keterbatasan biaya membuat mimpi itu terasa begitu jauh.
Satu uluran tangan Anda dapat membuka jalan masa depan bagi Septiyana.
Mari bersama wujudkan mimpi kecilnya untuk menuntut ilmu dan menghafal ayat-ayat suci dalam lindungan pesantren Karena setiap anak berhak bermimpi, belajar, dan dicintai
