
Muhammad Haikal, 10 tahun, tidak pernah mengenal ayah dan ibunya. Ia ditinggal sejak berusia 10 hari dan dirawat oleh tante dan omnya yang juga hidup dalam keterbatasan sebagai pemulung. Sejak usia 6 tahun, Haikal sudah ikut mencari sampah dan barang rongsokan bukan karena disuruh, tetapi karena ia ingin membantu keluarga yang merawatnya.

Setiap hari, Haikal bersekolah pagi, lalu dari jam 5 sore hingga malam ia kembali ke jalanan untuk memulung. Hasil dari memulung itu digunakan untuk kebutuhan sekolahnya dan adiknya yang masih 7 tahun. Haikal tidak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur dan justru ingin meringankan beban tante dan omnya.

Meski hidupnya keras, Haikal punya mimpi besar. Ia ingin menjadi tentara. Adiknya bercita-cita menjadi guru. Haikal berharap suatu hari mereka bisa tinggal di rumah layak, hidup cukup, dan terus sekolah sampai tinggi.

Saat ini, mereka tidak menerima bantuan dari mana pun. Mereka bertahan hanya dari hasil memulung setiap hari.
Dengan bantuan dari kita, Haikal dan adiknya bisa terus sekolah, memperoleh kebutuhan hidup yang lebih layak.