Usia Isnaini baru 12 tahun. Masih duduk di kelas 1 SMP, seharusnya ia menghabiskan sore dengan belajar, bermain, dan mengejar cita-cita. Tetapi sejak ayahnya meninggal 3 tahun lalu, keadaan berubah. Ibu Juanah sering sakit-sakitan karena masalah lambung, hingga tak lagi mampu bekerja seperti dulu.
"Aku takut ibu pergi seperti ayah… aku sayang banget sama ibu."
— Isnaini, menahan air mata

Setiap pulang sekolah, Isnaini menenteng tampah bambu berisi kerupuk elod dan berjalan keliling kampung. Panas terik bukan alasan untuk berhenti. Ia mendatangi satu per satu orang yang ia temui walaupun tidak laku, tetap dijalani.
Dalam sehari Isnaini rata-rata hanya menjual 10 bungkus, dengan keuntungan Rp2.000 per bungkus. Artinya, penghasilan Isnaini hanya Rp20.000 per hari, itupun jika dagangannya habis. Semua itu ia lakukan untuk menghidupi dirinya dan merawat ibunya seorang diri.

Tinggal di Gubuk Rapuh dan Nyaris Roboh, Isnaini dan ibunya kini hanya tinggal berdua di sebuah rumah kecil yang dindingnya telah lapuk, bolong, dan disangga bambu agar tidak runtuh.
Saat hujan turun, atap bocor di banyak titik membuat ruangan basah. Bahkan, mereka sering harus mengungsi ke rumah tetangga karena takut rumah ambruk diterpa angin.
"Kalau hujan rumah goyang, kami lari ke tetangga."
— Ibu Juanah
💛 Kita Bisa Meringankan Beban Kecil Ini
🤝 Yuk Jadi Bagian dari Masa Depan Isnaini
Kita tak bisa menggantikan sosok ayah yang ia rindukan
tapi kita bisa hadir sebagai saudara sesama manusia.
Klik DONASI SEKARANG, bantu Isnaini agar tidak harus berjuang sendirian. Setiap rupiah darimu berarti harapan baru bagi mereka. 🌼
💛 Mari ringankan langkah kecil Isnaini hari ini.
