Emak Enih, seorang lansia berusia 78 tahun yang masih berjualan lepet buatannya sendiri. Mak Enih jual dengan cara berkeliling kampung, menyusuri jalanan yang naik turun tanpa alas kaki. Langkahnya pelan, tubuhnya renta, namun ia tetap berjalan karena hanya itulah cara untuk bisa makan hari itu.
Dari hasil berjualan seharian, Emak Enih hanya mampu membawa pulang keuntungan tak lebih dari Rp20.000. Uang itu pun sering kali hanya cukup untuk membeli beras. Jika masih ada sisa, Emak Enih membeli ikan asin sebagai lauk. Namun jika tidak, ia harus puas makan nasi dengan garam saja.

Kondisi fisik Emak Enih semakin rentan. Saat berjualan, ia kerap kelelahan, dada terasa sesak, dan tubuhnya sering gemetar. Bahkan Emak Enih pernah terjatuh di jalan berbatu hingga giginya patah, namun keesokan harinya tetap kembali berjualan karena tak ada pilihan lain.
Di rumah, kondisi hidup Emak Enih jauh dari kata layak. Ia tidak memiliki kamar mandi. Untuk mandi dan mencuci, Emak Enih memanfaatkan empang kecil yang ia buat sendiri untuk menampung air hujan. Bahkan untuk kebutuhan minum, Emak Enih terbiasa menadah air hujan, lalu memasaknya agar bisa diminum.
Emak Enih tinggal berdua bersama suaminya. Namun sang suami kini sakit dan tak mampu bekerja, sehingga seluruh beban hidup harus ditanggung Emak Enih seorang diri. Mereka memiliki seorang anak, namun tidak tinggal bersama dan juga memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga hanya bisa membantu semampunya.

Di usia yang semakin senja, Emak Enih masih harus berjalan, memasak, berjualan, dan menahan sakit demi sekadar bertahan hidup. Uluran tangan kita bisa menjadi harapan besar agar Emak Enih dapat menjalani hari tuanya dengan lebih layak, tanpa harus terus mempertaruhkan kesehatan dan keselamatannya.
