Dek Ranisa baru berusia 12 tahun. Seharusnya di umur itu ia pulang sekolah, berganti baju, lalu bermain atau belajar di rumah. Tapi setiap siang hingga malam, Ranisa justru berdiri di pinggir jalan Griya Arcamanik, menjajakan peyek bersama ibu dan adiknya yang masih berusia 6 tahun.
Sejak kelas 5 SD, Ranisa sudah ikut berjualan. Peyek yang ia jual adalah buatan ibunya sendiri. Ayahnya bekerja sebagai penjahit celana, namun penghasilannya tak menentu. Karena itulah Ranisa memilih membantu orang tuanya, meski harus berjalan kaki ketika motor ayahnya mogok, bahkan berjualan sampai malam jika dagangan belum habis.
Keuntungan dari berjualan peyek tak seberapa. Kadang hanya Rp20.000, paling banyak Rp50.000 sehari. Itu pun sering habis untuk makan, biaya kontrakan Rp800.000 per bulan, dan kebutuhan harian. Pernah suatu hari peyek tak laku sama sekali, Ranisa hanya makan nasi dengan garam. Pernah juga kontrakan mereka menunggak dua bulan karena ayahnya tak mendapat pekerjaan.
Berjualan di jalan bukan hal mudah bagi anak seusia Ranisa. Ia pernah dijaili anak pengemis, kerudungnya ditarik hingga keranjang peyek jatuh dan hancur. Adiknya pernah diusir dan hampir ditendang pelukis jalanan. Ranisa ikut berjualan bukan hanya untuk membantu ekonomi, tapi juga karena takut ibunya disakiti lagi. Ia pernah melihat ibunya hampir dipukul saat bekerja sebagai badut keliling dulu.
Meski hidup keras, Ranisa tetap ingin sekolah. Ia pernah mengerjakan PR di pinggir jalan sambil menunggu pembeli. Pernah dimarahi guru karena tak punya handphone untuk belajar daring. HP satu-satunya milik ibunya pun sudah rusak. Kini Ranisa berada di kelas 6 SD dan sebentar lagi akan lulus, namun belum memiliki biaya untuk masuk SMP. Adiknya juga akan masuk SD, dengan kondisi yang sama.