Dari kejauhan, tampak seorang wanita dengan tatapan kosong menyeret karung rongsokan di bawah terik matahari. Ia adalah Dewi, istri dari Abah Obri. Dewi mengalami keterbelakangan mental, ia hanya bisa meniru apa yang dilakukan suaminya tanpa benar-benar paham cara mencari uang. Di sebuah gubuk reyot, Abah Obri yang sudah berusia 81 tahun hanya bisa menatap nanar. Kakinya yang sempat lumpuh akibat infeksi luka seng saat memulung membuatnya tak berdaya melihat anak dan istrinya terancam kelaparan.
Momen paling menyayat hati adalah ketika Dede, putra kecil mereka yang baru berusia 2 tahun, menangis histeris karena haus dan lapar. Tidak ada susu formula, bahkan tidak ada nasi. Dengan air mata bercucuran, Abah terpaksa memberikan air bekas cucian beras (air tajin) agar perut anaknya sedikit terisi. "Sakit hati Abah, tapi mau gimana lagi? Abah nggak bisa jalan, buat beli susu seribu perak pun Abah nggak punya," lirih Abah dengan suara bergetar.
Meski hidup dalam kemiskinan ekstrem dan memiliki istri dengan gangguan mental, Abah Obri tidak pernah terpikir untuk meninggalkan tanggung jawabnya. Baginya, anak dan istrinya adalah amanah dari Tuhan yang harus ia jaga sampai napas terakhir. Abah tidak ingin terus-menerus mengandalkan belas kasihan. Harapannya sangat sederhana: ia ingin memiliki modal usaha untuk menjadi pengepul rongsokan kecil-kecilan di gubuknya, agar fisiknya yang sudah renta tak perlu lagi dipaksa berkeliling belasan kilometer.
Sahabat, mungkin hari ini kita bisa makan enak tanpa kekurangan, tapi di luar sana, keluarga Abah Obri sedang bertaruh nyawa melawan lapar. Dede butuh asupan nutrisi yang layak, bukan air cucian beras. Abah Obri butuh modal usaha untuk bisa mandiri dan melindungi keluarganya.
Mari kita gotong royong, sisihkan sedikit rezeki untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Dede dan modal usaha bagi Abah Obri. Setiap rupiah yang Anda berikan adalah senyum baru bagi keluarga kecil ini.Dari kejauhan, tampak seorang wanita dengan tatapan kosong menyeret karung rongsokan di bawah terik matahari. Ia adalah Dewi, istri dari Abah Obri. Dewi mengalami keterbelakangan mental, ia hanya bisa meniru apa yang dilakukan suaminya tanpa benar-benar paham cara mencari uang. Di sebuah gubuk reyot, Abah Obri yang sudah berusia 81 tahun hanya bisa menatap nanar. Kakinya yang sempat lumpuh akibat infeksi luka seng saat memulung membuatnya tak berdaya melihat anak dan istrinya terancam kelaparan.
#Halo, Sahabat Berbagi
Salam sejahtera untuk kita semua. Alhamdulillah, amanah donatur atas donasi yang dititipkan melalui laman penggalangan ini untuk abah obri dan keluarga telah kami salurkan. Bantuan yang kami sampaikan berupa uang tunai, paket sembako dan baby care yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari abah obri.
Penyaluran ini dilakukan langsung oleh Tim Saling Berbagi yang turun ke lapangan dan diterima langsung oleh penerima manfaat. Terima kasih kepada dontur yang terus berpartisipasi untuk program ini. kami terus meminta kesediaan hati para donatur untuk terus mendukung program kebaikan ini dalam pada halaman penggalangan dana ini. Agar abah dan keluarganya bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Semoga apa yang telah diberikan akan di balas dengan berkali-kali lipat. Aamiin.
Salam Hormat,
Yayasan Lentera Saling Berbagi