Di bawah terik matahari, terlihat seorang pria tangguh bernama Pak Mail (53). Kondisinya tidak lagi utuh, penyakit diabetes memaksanya merelakan kakinya untuk diamputasi. Namun, kehilangan kaki bukan berarti ia berhenti berjuang.
Pak Mail menolak menyerah. Setiap hari, ia berjualan sapu lidi dengan cara yang menyayat hati, mendorong tubuhnya di atas tanah sambil membawa dagangan. Dari kampung ke kampung di Darul Aman, ia menyeret diri demi menyambung hidup istri dan anaknya.
Harga satu ikat sapu lidi yang ia jual hanya Rp5.000. Namun, tak jarang dagangannya tidak laku sama sekali. Meski peluh bercucuran dan tubuhnya lelah karena harus mendorong diri di aspal yang panas, Pak Mail tetap tersenyum dan pantang meminta-minta.
Mari sisihkan sedikit rezeki kita dan bantu ringankan beban Pak Mail agar ia bisa berjualan dengan lebih layak.
