Jalanan licin, hujan belum juga reda. Di tengah dingin yang menusuk dan angin yang sesekali menggoyahkan langkah, Abah Rukmana tetap berjalan… pelan, tertatih, sambil memanggul karung berisi pepaya di pundaknya. Satu langkah… lalu berhenti sejenak. Bukan karena menyerah tapi karena ia hanya punya satu kaki untuk bertumpu.
Tongkat kayunya hampir tergelincir di aspal basah. Tubuhnya goyah. Namun Abah tetap memaksa melangkah. Kaki kanannya… sudah tak lagi ada sejak kecelakaan tragis yang merenggut masa depannya. Hari itu, Abah hanya ingin mencari nafkah seperti biasa. Ia mencoba menyelip di antara mobil dan truk batubara di jalan sempit. Motor di depannya berhasil lolos tapi tidak dengan Abah. Dalam hitungan detik, tubuhnya terjepit. Kaki kanannya terlindas keras hancur tak tersisa.
Di ruang rumah sakit, dokter tak punya pilihan selain menyarankan amputasi. Namun dengan suara bergetar, Abah memohon… agar sebagian kakinya masih disisakan. Bukan untuk sembuh tapi untuk tetap punya harapan. Harapan… suatu hari bisa memakai kaki palsu dan kembali berdiri lebih kuat. Kini, yang tersisa hanya separuh paha… dan sebuah tongkat sederhana yang menjadi penopang hidupnya.
Sejak saat itu, hujan bukan lagi sekadar air yang turun dari langit. Hujan adalah ketakutan.
Jalan yang licin membuat tongkatnya mudah tergelincir. Tak jarang Abah jatuh… bersama karung pepaya yang ia bawa. Buah-buah itu pecah, hancur, tak bisa dijual lagi. Dan setiap kali itu terjadi… bukan hanya dagangannya yang hilang, tapi juga harapan untuk membawa pulang uang hari itu. Namun Abah tak punya pilihan. Di rumah, ada keluarga yang menunggu. Perut-perut yang harus diisi. Hidup yang sepenuhnya bergantung pada satu kaki yang tersisa… dan tekad yang tak pernah benar-benar runtuh.
Bayangkan… di usia yang tak lagi muda, dengan tubuh yang sudah kehilangan sebagian dirinya, Abah tetap memaksa melawan hujan, melawan sakit, melawan rasa takut jatuh hanya demi keluarganya bisa makan hari itu.
Kerabat, perjuangan Abah Rukmana terlalu berat jika harus ia pikul sendirian. Hari ini, kita bisa jadi alasan Abah tetap bertahan.
Kita bisa jadi harapan yang selama ini ia genggam dalam diam.
Mari bantu Abah agar ia bisa mencari nafkah dengan lebih aman dan layak. Agar ia tak lagi harus mempertaruhkan nyawanya di jalanan licin setiap hari. Karena bagi kita mungkin hanya sedikit… tapi bagi Abah dan keluarganya, itu adalah kehidupan.
